Sabtu, 14 Juni 2014
(Buku Antologi) Once More Ramadhan
Kali ini bukunya tentang kisah inspiratif terkait hulan suci Ramadhan. Nah, dua pekan lagi kita akan beramadhan. Insya Allah pas di waktu tersebut, buku ini sudah hadir di toko-toko buku.
Ini adalah buku antologi kami, Be A Writer Community. Audisi dilakukan internal sejak awal tahun dengan PJ mba Adya Pramudita. Buku Once More Ramadhan ini diterbitkan oleh Grasindo.
Saya punya dua naskah di sini. Satu, cerita tentang Ramadhan di rumah sakit dengan tingkat galau yang luar biasa karena bapak harus menjalani operasi berisiko tinggi tahun lalu. Kisah tersebut berjudul (Mudah-mudahan) Bukan Ramadhan Terakhir. Dua, kenangan masa kecil saya tentang kebiasaan almarhumah Emak, nenek saya, yang suka membuat besek daun pisang tiap kali jelang lebaran. Judul kenangan itu sama dengan nama besek khas Emak, Sangu Cangkedong.
So, segera dapatkan bukunya ya! Dijamin banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita-cerita di dalamnya.
Rabu, 02 April 2014
Curhat Dimuat! (Pertama Kali Tembus Media)
Pagi ini mama mertua memberikan sebuah majalah Ummi kepada saya. Di situ tertulis pengirimnya adalah PT Insan Media Pratama, penerbit majalah Ummi dan Annida. Tentu saja saya sangat senang karena memang sudah saya nantikan. Saya malah mengira baru akan diterima besok, tanggal 3. Saya sempat bertanya pada admin @majalahUMMI tentang masa terbit bulanannya.
Ceritanya, saya mengirimkan curhatan saya pada 15 Januari. Ada dua curhatan yang saya layangkan pada dua media berbeda. Lalu di akhir Februari saya mendapatkan jawaban dari Majalah Ummi bila karya saya layak muat untuk edisi April. Karena saya belum melampirkan foto, maka saya harus segera mengirimkan selambat-lambatnya tiga hari setelah kabar tersebut.
Waduh, foto-foto saya kebanyakan bersama anak jadi kudu foto lagi. Hehehe. Saya minta suami mengambil foto lalu saya mengirimkannya. Itupun dengan meminjam laptop kakak ipar saya. Kebetulan dia membawanya jadi saya bisa edit dan kirim. Soalnya sudah lebih dari setahun saya tidak lagi memakai laptop apalagi komputer. Sudah pada almarhum dan belum ada gantinya hihihi. Mengirim curhatan ke majalah pun via ponsel. Alhamdulillah tak besar filenya jadi bisa terkirim.
Senang rasanya bisa tembus media. Biarin norak juga ya hehehe...
So, saya korek-korek lagi deh curhatan emak-emak. Siapa tahu ada yang nyantol lagi di media yang sama ataupun media lain. Aamiin.
Oya ini tulisan yang dimuat di rubrik Nuansa
Wanita: Kalah oleh Amarah.
Kalah Oleh Amarah
"Bu, pinjem hape!" seru putera saya, Faiz. Saya mengangguk. Faiz memang senang melihat foto dan video aksinya yang aaya rekam di ponsel itu. Dia berlari sambil membawa ponsel putih yang casing-nya nyaris lepas karena salah satu sisinya patah. Tutup baterai juga telah longgar. Tapi ponsel itu terbilang baik-baik saja meski "lola" alias loading lama.
Saya masih menonton TV saat Faiz menirukan kata-kata yang sering saya lontarkan, "handphone-nya nge-hang!"
"Bu, maaf ya, 'ininya' nggak bisa masuk," kata Faiz tiba-tiba sambil menyodorkan ponsel.
Ketika saya terima, spontan saya berseru, "Astaghfirullahal'adzim, Faiz!" Saya pandangi dia dengan marah. Micro SD berkapasitas delapan gigabyte terbelah dua. Rupanya dia berasumsi ponsel bermasalah karena posisi micro SD yang tidak tepat. Maka ia tarik lalu memasukkannya lagi dengan posisi terbalik. Tentu saja tidak akan pas. Karena itulah ia mendorong paksa, akhirnya patah.
"Kenapa nggak kasih ibu aja kalau Faiz nggak bisa pasang? Kalau begini, kan, Faiz juga tidak bisa lihat foto dan nonton video lagi!" cerocos saya masih dengan amarah.
Saya kesal bertubu-tubi. Pertama, karena file dalam micro SD itu belum saya pindahkan ke laptop. Kedua, karena saya harus kehilangan banyak momen indah dalam hidup yang tersimpan di kartu tersebut tanpa sempat menyelamatkannya. Ketiga, karena sudah mengizinkan balita, yang belum genap empat tahun, bermain dengan ponsel yang ngadat tanpa pendampingan.
Saya marah, tak tahu harus berbuat apa. Melihat jam sudah mendekati waktu tidur siang, saya menyuruhnya ke kamar. Meski sempat enggan, Faiz menurut juga. Saya ucapkan zikir untuk meredam amarah.
Di kamar, saya hempaskan tubuh di kasur. Bahkan saat suami menanyakan apa yang terjadi, saya jelaskan dengan ketus. Ternyata saya masih terselimuti amarah sampai-sampai bersikap menyebalkan pada suami.
Faiz duduk di dekat saya dan mulai menangis. Saat ayahnya bertanya, Faiz menjelaskan dengan terpatah-patah. Dia menangis karena melihat saya marah-marah dan berjanji tidak akan mematahkan kartu ponsel lagi (maksudnya micro SD).
Suami saya mengingatkan Faiz untuk meminta maaf dan tidak mengulangnya kembali. Ia mengangguk.
"Bu, maafkan Faiz ya? Faiz nggak akan patahin lagi kartu di hape Ibu."
"Iya. Sok tidur!"
Tak lama iapun tidur. Wajahnya amat polos. Tiba-tiba mengalir air dari kedua mata saya tanpa bisa ditahan. Betapa saya kalah oleh amarah. Akibatnya saya melukai perasaan anak. Apalah artinya kehilangan memori ponsel delapan gigabyte bila ternyata saya memutus entah berapa miliar byte kemampuan otak anak saya. Karena konon, suara keras dan membentak dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh.
Astaghfirullaahal'adzim.
(dimuat di Majalah Ummi No 4/ XXVI/April 2014/1435 H)
Senin, 30 Desember 2013
Memilih Bahagia (Sebuah Review Novel The Mocha Eyes)
Judul buku: The Mocha Eyes
Penulis: Aida MA
Penyunting: Laurensia Nita
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: Mei 2013, cetakan I
"Bahagia itu sekarang, Ara! Di sini, menunggumu dengan senyuman." (Halaman 83)
Benar, bahagia itu pilihan dan hanya ada sekarang, saat ini. Ketika memilih bahagia, maka langkah akan ringan dan kebahagiaan itu akan menebar, melebar, menyempurna. Ini berdasarkan pengalaman pribadi maka saya sangat setuju dengan ucapan ibunda Muara itu.
Usai membaca novel ini beberapa waktu lalu, saya mendapati berita kehamilan seorang mahasiswi lantaran eksploitasi seksual oleh salah satu budayawan ternama. Peristiwa itu membuka mata saya. Perempuan begitu rentan hancur dan dihancurkan.
Saya yakin perempuan seperti Muara tidak sedikit; perempuan korban pelecehan seksual. Sebagian berani melaporkannya pada polisi seperti RW dalam kasus di atas. Tapi lebih banyak lagi seperti Muara yang menarik diri, menyalahkan diri, merasa dunia tak adil padanya, menjauh dari dunia yang pernah menjadi miliknya. Mereka berjuang mengalahkan dirinya, mengentaskan amarahnya, memaafkan diri dan masa lalu.
Itu tidak mudah. Prosesnya bisa sangat panjang. Traumanya tak bisa hilang. Satu kehidupan telah hancur. Muara berhenti kuliah dan memilih menjadi pekerja apa saja, tanpa ambisi, tanpa harapan. Sekadar berupaya hidup normal.
Meski ada ibu yang tak henti mendorong keluar dari kegelapannya, Muara tetap bergulung dalam sedihnya. Ia memilih seperti itu. Memiliki Damar sebagai kekasih juga tak membuatnya bahagia. Bahkan kemudian membuat luka lain dalam hati Muara. Semakin ia bergelung dalam pekat.
Sampai kemudian Fariz, seorang motivator, memberinya moka. "Kalau kamu mengandaikan hidupmu sebagai kopi yang pahit, sekalipun ada hari yang manis, kamu akan tetap merasa pahit. Begitu juga bagiku, hidupku itu seperti cokelat yang gurih. Maka, sekalipun ada yang pahit, aku akan mencoba menetralisasi. Kalau kamu terlalu sulit untuk memahami maka aku memberikan jembatan ini.... Cangkir yang menghubungkan dua hal ini, kopi dan cokelat untuk menjadi moka. Dua cangkir ini hanya untuk menggambarkan hidup secara lebih realistis meski membingungkan, ada pahit dan ada gurih. Hidup itu secangkir moka!" (halaman 139)
Moka secara fisik dan juga filosofis. Keduanya diberikan Fariz pada Muara. Di sinilah gerbang hidup Muara kembali bersinar. Ia tak lagi menutupi dirinya. Fariz mendapatkan kepercayaan darinya juga cintanya. Muara tidak kembali seperti dulu tapi menjadi Muara yang baru. Saat itulah ia sadar, Fariz bukan hanya miliknya.
Seorang motivator favorit klien itu memiliki Meisha, perempuan cantik nan cerdas yang selalu berada di sisinya. Akankah kemudian Muara kembali terpuruk dan menutup gerbang hidupnya yang baru saja bersinar? Bagaimana cara Muara memilih bahagia?
Sebuah kisah yang emosional. Pergolakan batin seorang korban pelecehan tergambar baik. Perubahan karakter Muara yang semula ramah dan ceria kemudian menjadi antisosial bisa saya rasakan. Begitu juga saat Muara kembali menjadi sosok yang baru. Peralihan suasana cerah ke muram lalu kembali bersinar perlahan pada diri Muara saya acungi jempol. Hanya saja pada sosok Fariz, saya tidak merasa ia adalah tokoh yang membumi. Dia seperti tokoh dalam televisi. You know, he's too good to be true.
Tokoh ibu saya suka. Dapat dirasakan keteguhan hatinya dan kesabarannya yang tinggi. Ibu semacam itulah yang memang pantas menghadirkan sosok Muara. Sayangnya, tokoh Maya tak diketahui rimbanya. Saya rasa, tokoh itu bisa lebih hidup dalam proses atau mungkin saat Muara berhasil keluar dari kegelapannya. Karena disebutkan penulis, Maya adalah tokoh yang tulus.
Over all, The Mocha Eyes adalah novel yang manis dan filosofis. Banyak pesan yang terkandung di dalamnya tanpa merasa dihakimi. Termasuk kampanye anti rokok. Bahasanya ringan dan mengalir, khas Mbak Aida M.A. Konflik dan pemecahannya rapi tersusun. Nyaman membacanya.
Sebenarnya saya bukan pembaca yang rewel dengan typo atau keganjilan adegan. Tapi untuk yang satu ini, saya terus memikirkannya lantaran geregetan. Apakah penulis salah mengetik atau saya salah menggambarkannya karena saya adalah pembaca yang visual; selalu membayangkan apa yang dideskripsikan penulis.
Pada halaman 156 tertulis Fariz menyalakan mesin mobilnya lagi, membayar uang parkir, kemudian mengemudikan mobilnya menuju rumah Mei. Fariz membiarkan wanita itu terus saja menyandarkan kepalanya di lengan kanan Fariz.
Adakah yang merasa ganjil dengan deskripsi dua kalimat tersebut? Kalau saya, merasa aneh dengan posisi lengan yang menjadi sandaran kepala si wanita. Pasalnya mobil yang dikendarai Fariz menurut penulis di halaman 144 adalah mobil keluaran Jepang. It means, posisi pengendara ada di sebelah kanan mobil. Jika Fariz menyetir, maka di sebelah kanannya adalah pintu mobil. Jadi, bagaimana mungkin si wanita yang menumpang menyandarkan kepalanya di lengan pengemudi?
Dan satu lagi yang membuat saya gemas. Mengapa harus lagu When I Found You dari Britney Spears yang menjadi pengiring nuansa Fariz di halaman 141? Karena menurut saya, dengan karakter yang tergambar, Britney Spears bukanlah pilihan penyanyi yang tepat untuk Fariz (he's early 30 years old and so masculine). Apalagi kemudian saat berdua bersama Muara di halaman 233, lagu yang diputarkan Fariz adalah You're all That I Need milik White Lion. Saya rasa I Finally Found Someone-nya Bryan Adams dan Barbra Streisand lebih mewakili tinimbang lagunya Britney.
Sabtu, 30 November 2013
(Resensi 12 Menit) Berjuang Sampai Menang
Buku ini diawali sebuah ayat yang diambil dari Al Quran. Surat Al Ra'd ayat 11 yang berarti "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri". Ayat ini mewakili isi novel yang disadur dari kisah nyata perjuangan tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim (MBBPKT). Kisah yang dirancang apik dalam novel "12 Menit".
Uniknya, di sampul depan sudah ada secarik pesan: "nantikan filmnya". Biasanya, novel best seller atau novel yang memikat sineas muncul beberapa lama sebelumnya kemudian divisualkan dalam wujud film. Tapi ini, baru cetakan pertama sudah dilabeli seperti itu. Saya dibuat heran karena ini di luar kebiasaan. Ternyata novel ini adalah adaptasi dari skenario film "12 Menit untuk Selamanya". Penulisnya adalah penulis skenario film tersebut, Oka Aurora. Ia berkejaran menulis novel dalam masa syuting film karena novel harus terbit sebelum filmnya diputar di bioskop-bioskop.
Saya menyebut novel ini sebagai hidangan pembuka film. Seperti halnya hidangan pembuka, novel pertama Oka bersifat membangkitkan selera. Tentu saja tidak mengenyangkan tapi membuat saya bersiap pada hidangan utamanya. Saya seperti halnya kebanyakan pembaca novel, suka ragu dengan film yang diangkat dari novel. Sering kali tak sesuai gambaran imajinasi. Untuk menjembatani pembaca seperti saya, sepertinya sengaja ditampilkan foto-foto pada sampul bagian dalam. Di sana ada Elaine, Tara, Lahang, dan Rene juga teman-teman MBBPKT yang tengah berlatih. Foto-foto itu adalah potongan gambar film sesungguhnya.
"12 Menit" bercerita tentang perjuangan MBBPKT menjadi juara dalam ajang Grand Prix Marching Band (GPMB) di Istora, Jakarta. Lika-liku setiap anggotanya untuk bisa mengalahkan diri mereka sendiri agar dapat menyatu bersama tim dan mewujudkan impian bersama.
Rene, pelatih MBBPKT adalah orang yang paling ingin mewujudkan impian yang mustahil itu. Ia sudah beberapa kali membawa tim marching band yang dilatihnya meraih juara di ajang nasional maupun internasional. Bahkan sebelum ke Bontang, tim marching band asuhannya di Jakarta menjadi juara GPMB tiga kali berturut-turut. Kali ini ia mendapat tantangan terberat selama menggeluti profesinya. Rene harus melatih satu tim yang berasal dari pelosok, bukan anak-anak kota yang biasa ia latih. Ia tak hanya harus melatih kemampuan bermain musik, tapi juga membangkitkan rasa percaya diri mereka. Anak-anak berlian yang merasa kecil karena berasa dari kota kecil.
Tara salah satunya. Ia adalah pemain drum. Daya dengarnya yang tinggal 10-20 persen membuatnya kesulitan berharmoni dengan tim. Tapi masalah utamanya bukan itu. Tara punya trauma masa lalu yang menyebabkan pendengarannya berkurang. Trauma itu membuatnya keras pada diri sendiri dan tidak mau memaafkan. Ia kecewa dan mengecewakan orang-orang tercintanya.
Lahang pun demikian. Ia tidak bisa memaafkan dirinya andai harus kehilangan bapak tanpa ia ada di sisinya. Lahang, penari berbakat dan menjadi andalan menari solo dalam tim, menghadapi dilema. Bapaknya, tetua adat Dayak, sakit keras menjelang kepergian anak semata wayangnya ke Jakarta. Meraih impiannya di Jakarta atau menemani ayahnya menjelang ajal adalah pilihan yang berat. Keduanya penting bagi Lahang. Ke Jakarta adalah juga mewujudkan impian mendiang ibundanya; sedangkan menemani ayah adalah juga tekadnya setelah pada kematian ibu, ia tak sempat menemani di penghujung hidupnya.
Memilih juga hal tersulit bagi Elaine. Dia selalu mendapatkan tekanan berat dari ayahnya, Josuke Higoshi. Bahkan ketika ia sudah memenuhi kemauan ayahnya, masih saja itu belum cukup. Maka ketika ia memilih marching band daripada olimpiade Fisika, mengharukan saya. Perlu keberanian besar seorang Elaine memutuskannya. Dan benar saja, Josuke tak menyetujui pilihan anaknya bahkan menarik paksa Elaine dari lapangan saat gladi resik. MBBPKT terancam tak memiliki field commander dalam ajang GPMB di Jakarta.
Kisah-kisah ini mewakili 130 anggota tim MBBPKT yang harus mengalahkan diri mereka dulu sebelum berjuang bersama tim. Saya suka dengan pilihan Oka yang menuliskannya dalam kalimat-kalimat pendek dan efektif. Hebatnya, saya tidak menemukan typo alias kesalahan ketik. Meski saya pembaca yang toleran dengan typo, tapi mendapati novel yang mulus seperti ini menyenangkan mata.
Penceritaan yang to the point dan menghadirkannya dalam bab-bab pendek, memudahkan saya memvisualisasikannya dalam benak (ini kebiasaan saya kalau baca novel). Karena jalinan alurnya tidak terlalu cepat, maka bab-bab pendek ini tak membuat saya kelelahan membaca. Ditambah, kalimat-kalimat mutiara yang motivatif bertebar di hampir seluruh bab. Membuat saya kadang harus diam sejenak, meresapi kalimat-kalimat itu, sebelum kemudian melanjutkan membaca. Dan, itu sukses membuat saya membaca ulang lalu menandai kalimat-kalimat itu.
"Berapapun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan, sambung bapaknya lembut, "karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian." (halaman 104)
"Tak ada pelaut tangguh yang dilahirkan oleh laut yang tenang." (halaman 140)
"...hadapi masalahmu satu per satu. Selesaikan satu demi satu. Menghabiskan sepiring nasi nggak mungkin dalam sekali telan kan?" (halaman 258)
Membaca novel ini membuat saya geregetan. Konflik yang dihadirkan berlapis terkadang bikin sebel. Seakan sudah selesai dan berekspektasi akan menikmati cerita yang manis-manis, eh muncul masalah lain dan itu bukan mengada-ada. Karena sebenarnya kalau mau cermat, potensi konfliknya sudah dihadirkan pada bagian-bagian sebelumnya.
Meskipun tampaknya pesan yang disampaikan serius, Oka menyampaikannya dengan ringan. Malahan ada bab yang full bikin saya terbahak, bab 45. Istilah-istilah marching band tak membuat saya pening. Glosarium di bagian belakang malah saya telusuri usai menyelesaikan membaca novelnya. Dengan menerka-nerka istilah-istilah tersebut sambil menyesuaikan dengan narasi atau deskripsi yang dituliskan, lebih menyenangkan bagi saya yang buta istilah marching band dan musik.
Berjuang memang akan selalu ada dalam tahapan hidup manusia. Bahkan untuk menaklukkan istilah-istilah dalam marching band tanpa menengok Glosarium. Hehehe. Sepahit apapun perjuangan, akan menerbitkan manis, cepat ataupun kelak. Yang terpenting, siapkan diri menjadi tangguh. Maka benar adanya bila Oka menuliskan ini dalam bukunya:
"Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya."
Vincero!
Judul buku: 12 Menit
Penulis: Oka Aurora
Penggagas cerita: Regina Septapi
Penyunting: @me_dorry dan @shinta_read
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2013
ISBN: 978-602-7816-33-6
Senin, 21 Oktober 2013
Kami Memberinya Nama "Pemimpin"
Malik berasal dari Bahasa Arab yang berarti Raja, Penguasa, Pemimpin, Pemilik atau Yang Memiliki. Banyak kata Malik dalam Al Quran. Salah satunya yang terkenal adalah “Malikinnaas” (QS Annas:2) yang artinya Raja Manusia dan “Maalikiyawmiddiin” (QS Al Fatihah:4) yang berarti Pemilik hari pembalasan.
Sepertinya, saya (dan dua kawan saya tersebut) menginginkan, mendoakan agar putra pertama kami menjadi pemimpin kelak. Pada dasarnya setiap manusia memang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bahkan bagi kaum laki-laki, mereka adalah pemimpin bagi kaum perempuan (tertuis dalam QS Annisa:34). Ah, ya. Malik kami semuanya adalah anak pertama. Jangan-jangan karena itulah kami menamai anak sulung kami Malik. Hehehe.
Khusus untuk Malik anak saya, kami memanggil dia dengan nama akhirnya, Faiz yang berarti “Yang beruntung”. Dengan memanggilnya berulang-ulang, insya Allah menjadi doa agar ia menjadi orang yang beruntung di kehidupannya, baik di dunia dan di akhirat. Amin.
Faiz tak begitu saja hadir ke dunia ini. Tak seperti rangkaian hidup manusia pada umumnya yang langsung mengandung sesaat setelah menikah. Saya dan suami harus menunggunya sampai tiga tahun. Itupun dengan proses yang tak mudah. Saya dan suami mengupayakan terapi agar bisa memiliki keturunan. Caranya dengan mengubah pola makan dan bergaya hidup sehat. Kami, terutama saya yang hendak mengandung, harus mau memilah-milah makanan alias berpantang. Saya tidak diperkenankan mengonsumsi makanan sampah, makanan cepat saji, serta sambal botolan. Saya wajib memakan makanan rumahan yang segar.
Repot? Jelas. Tapi alhamdulillah saya mendapat dukungan dari keluarga. Eh, tapi saya juga tetap mendapatkan komentar sinis. “Hamil kok menderita begitu?” Hehehe barangkali ia melihat saya menderita karena harus memastikan apakah yang saya konsumsi sehat atau tidak. Terbukti, tiga bulan menjalani terapi, saya hamil. Selama kehamilan saya tetap melakukan pantangan. Saya menambahkan susu ibu hamil dan vitamin dari bidan. Buat saya bukanlah suatu hal yang merepotkan apalagi membuat saya tak bahagia. Saya menganggapnya sebagai upaya memilihkan nutrisi terbaik untuk anak, calon pemimpin masa depan. Jadi persiapannya sudah sejak sebelum hamil. Begitu dia lahir, saya sudah terbiasa memberikannya makanan yang sehat.
Saya memutuskan berhenti bekerja di tahun ke dua pernikahan. Saya berniat menjadi sekolah yang baik untuk anak-anak kami. Menurut pepatah ulama, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Sejak sebelum hamil, saya rajin membaca-baca berbagai artikel parenting. Salah satu yang saya suka adalah menanamkan kecintaan membaca buku sejak dini. Saya membeli buku-buku cerita anak balita dengan berbagai tema. Saat hendak tidur siang dan malam, sering kali saya membacakan satu sampai lima cerita. Perlahan, anak saya hafal cerita yang disenanginya.
Satu hari Faiz mengambil buku cerita yang biasa dibacakan. Iapun “membaca” buku tersebut sesuai dengan ceritanya. Bahkan halaman yang dibukanya sesuai dengan teks cerita. Memang, saya tak mengubah apapun dalam bercerita. Saya hanya membacakannya. Tidak berkreasi menambah-nambahkannya dengan cerita atau tokoh lain. Pasalnya, pangeran kecil saya itu bisa minta dibacakan sampai lima cerita sekali baca. Sementara saya cenderung pelupa. Jadi, saya memilih jalan aman: membaca sesuai teks dengan intonasi yang sama. Ternyata hal itu membuat dia cepat hafal ceritanya. Apalagi bila cerita tersebut ia suka.
Selain “membacakan” cerita kepada saya, Faiz juga menceritakannya pada orang-orang di rumah. Saat kakak ipar saya merekam via ponsel, dengan sedikit malu-malu ia bercerita tentang mobil balap, salah satu cerita kesukaaannya.
Kebiasaan ini membuatnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Terkadang diksi yang ia pilih tak lazim digunakan anak seusianya (sekarang ia berusia 3 tahun 8 bulan). Misalnya ketika dia tiba-tiba bercerita tentang khayalannya. “Faiz terkulai di dekat teman Faiz. Teman Faiz marah deh! Dia melancarkan tubuh lalu tidur, terus bangun dengan ceria, terus main dengan Faiz, terus sampai di gedung tinggi. Terus Faiz melawan teman Faiz. Teman Faiz sedih deh. Dia berada di mata.”
Selain membacakan cerita, saya mulai melatihnya membuat cerita. Sering kali ia enggan dan saya tak memaksanya. Saya rasa ia berpotensi membuat cerita yang baik. Salah satunya sudah kami buat bersama di sini.
Jika menilik pada ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, maka ada tiga peran pemimpin. Pemimpin haruslah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani. Artinya, pemimpin haruslah mampu menjadi suri teladan, menggugah semangat serta memunculkan inovasi, dan memotivasi, memberikan kepercayaan kepada mereka yang dipimpinnya.
Jadi, meskipun Malik kami sematkan di depan nama anak, tak lantas ia hanya boleh jadi suri teladan. Iapun harus mampu membangkitkan semangat, berinovasi, ikut berperan serta, memotivasi, dan percaya seperti ajaran kepemimpinan pendiri Taman Siswa tersebut.
Doa ibu selalu besertamu, Nak.
Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Penulisan Blog Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil"
Minggu, 20 Oktober 2013
For The First Time
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

